JAKARTA (09 Desember) – Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta, Nova Harivan Paloh, menegaskan pentingnya inovasi dalam mengembangkan sumber pendapatan di luar penjualan tiket Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta. Menurutnya, ketergantungan pada farebox perlu dikurangi melalui strategi usaha yang kreatif dan adaptif.
“Kita melihat MRT Jakarta harus memiliki diversifikasi usaha yang kreatif. Tidak hanya bergantung pada tiket, tetapi mampu menghadirkan sumber pendapatan lain yang berkelanjutan,” ujar Nova, saat rapat evaluasi kinerja PT Moda Raya Terpadu (MRT) dengan Komisi B DPRD Jakarta, Selasa (09/12/2025).
Nova mencontohkan sejumlah potensi yang dapat dikembangkan, seperti menghadirkan spot-spot menarik di area stasiun, penguatan branding, hingga penjualan merchandise atau cinderamata khas MRT Jakarta.
“Bagaimana ke depan peningkatan revenue bisa datang dari berbagai kreativitas yang dimiliki MRT Jakarta,” tambahnya.
Menurut Nova, penguatan pendapatan non-farebox akan membantu MRT Jakarta menjadi lebih mandiri secara finansial, sekaligus memberikan nilai tambah bagi pengguna layanan transportasi massal di Jakarta.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Pengembangan Bisnis PT MRT Jakarta, Farchad H. Mahfud, menjelaskan bahwa kontribusi pendapatan non-farebox saat ini masih dalam tahap pemulihan pascapandemi Covid-19. Ia menyebut, MRT Jakarta baru beroperasi sekitar dua tahun ketika pandemi melanda, sehingga berdampak signifikan terhadap kinerja bisnis non-tiket.
“Baru dua tahun beroperasi lalu masuk pandemi Covid-19. Itu membuat kondisi cukup berat. Kami berupaya bertahan dan tetap mengaktifkan non-farebox saat itu, dan kalau boleh jujur, sampai saat ini kami masih dalam proses recovery,” ungkap Farchad.
Ia menyampaikan, saat ini pendapatan non-farebox MRT Jakarta masih bertumpu pada sektor commercial retail dan pemanfaatan aset di Fase 1, terutama melalui advertising dan area ritel. Ke depan, MRT Jakarta berkomitmen terus mengeksplorasi setiap potensi ruang yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pendapatan non-farebox.
“Per hari ini, sekitar 90 persen area retail MRT Jakarta sudah terisi. Kami mencoba menambah dan mengoptimalkan area yang ada. Selama memungkinkan, meter persegi lantai, tembok, hingga atap akan kami maksimalkan untuk mendukung pendapatan,” pungkasnya. (*/FM)