JAKARTA (09 April) – Komisi B DPRD DKI Jakarta menyoroti ketidaksesuaian antara target dan realisasi keuangan Perumda Pembangunan Sarana Jaya. Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta, Nova Harivan Paloh mengatakan, kondisi tersebut terlihat dari perbandingan nilai aset perusahaan dengan capaian pendapatan yang dinilai belum optimal.
“Sarana Jaya punya aset kurang lebih Rp7 triliun, tapi kalau kita lihat RKA-nya di tahun 2024, realisasinya hanya sekitar Rp300 miliar. Artinya tidak sesuai dengan target,” ujar Nova, Rabu (8/4/2026).
Menurut Nova, sumber pendapatan Sarana Jaya saat ini masih terbatas dan belum mencerminkan potensi aset yang dimiliki. Ia menyebut pendapatan perusahaan sebagian besar masih bergantung pada satu aset, yakni hotel yang dikelola.
“Kurang lebih per tahun pendapatannya sekitar Rp90 miliar. Ini menunjukkan sumber pendapatan masih terbatas,” kata Nova.
Karena itu, DPRD mendorong manajemen Sarana Jaya melakukan diversifikasi usaha dengan mengoptimalkan aset, terutama yang berada di kawasan strategis.
“Aset-aset di wilayah prime harus dimaksimalkan. Jangan didiamkan, tetapi harus bisa dikonversi menjadi sumber pendapatan,” ujarnya.
Komisi B DPRD DKI Jakarta berharap evaluasi menyeluruh terhadap kinerja dan pengelolaan Sarana Jaya dapat segera ditindaklanjuti. Dengan demikian, perusahaan daerah tersebut diharapkan mampu meningkatkan kontribusi terhadap pendapatan daerah. (*/FM)