JAKARTA (29 Juli) – Pelatihan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dinilai perlu berorientasi pada keberlanjutan usaha, bukan sekadar mengejar jumlah peserta. Tanpa pendampingan yang berkelanjutan, pelatihan berisiko belum mampu mencetak wirausahawan yang mandiri dan mampu mengembangkan usahanya dalam jangka panjang.
Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta, Nova Harivan Paloh, mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melakukan transformasi terhadap program pembinaan UMKM, termasuk melalui program Jakpreneur, agar lebih menitikberatkan pada peningkatan kualitas pelaku usaha dibanding sekadar capaian kuantitas.
Menurut Nova, selama ini Pemprov DKI Jakarta telah berhasil melatih ribuan pelaku UMKM melalui program Jakpreneur. Namun, pola pelatihan yang hanya berlangsung selama tiga hingga lima hari dan diakhiri dengan pemberian bantuan peralatan dinilai belum cukup untuk membangun usaha yang mampu bertahan dan berkembang.
“Kita tidak mau hanya mengejar kuantitas, tetapi kualitasnya yang paling utama. Jangan pelatihan cuma lima hari, dikasih alat, selesai. Ketika dapat alat, ternyata tidak jadi pengusaha. Kita harus buat program jangka panjang,” ujar Nova, Hal saat rapat pembahasan Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) serta Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) bersama jajaran eksekutif di Komisi B DPRD DKI Jakarta, Selasa (29/7/2026).
Ia menilai pembinaan UMKM perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui sistem pendampingan yang mampu membekali peserta dengan kemampuan mengelola usaha, mulai dari penyusunan model bisnis, pengelolaan keuangan, strategi pemasaran, hingga pengembangan produk.
Karena itu, Nova mengusulkan agar Pemprov DKI Jakarta mengembangkan skema inkubasi bisnis dengan melibatkan perguruan tinggi sebagai mitra pendamping. Menurutnya, masa pelatihan juga perlu diperpanjang menjadi sekitar 10 hingga 15 hari agar peserta memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif sebelum menjalankan usahanya secara mandiri.
“Kolaborasi dengan perguruan tinggi akan memberikan nilai tambah karena peserta tidak hanya memperoleh pelatihan, tetapi juga pendampingan, konsultasi bisnis, hingga akses terhadap jejaring usaha yang lebih luas,” katanya.
Menurut Nova, penguatan kualitas UMKM menjadi langkah penting dalam memperkuat ekonomi kerakyatan sekaligus membuka lebih banyak peluang kerja di Jakarta. Ia berharap perubahan pola pembinaan tersebut mampu melahirkan lebih banyak pelaku UMKM yang tangguh, berdaya saing, dan mampu menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi Jakarta.
“Target kita bukan hanya melahirkan peserta pelatihan, tetapi mencetak pengusaha yang benar-benar mampu mengembangkan usahanya dan bertahan dalam jangka panjang,” tegasnya. (EP/FM)