JAKARTA (23 April) – Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta dari Fraksi NasDem, Raden Gusti Arief menegaskan program kebudayaan di Jakarta tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi harus diarahkan untuk membangun ekosistem budaya yang berkelanjutan.
Menurut Gusti, besarnya anggaran di sektor kebudayaan harus menghasilkan dampak yang nyata, bukan hanya kegiatan yang ramai saat berlangsung tetapi tidak meninggalkan keberlanjutan.
“Kalau kita bicara ekosistem, jangan cuma event-event doang. Event itu kalau ramai, ya ramai, tapi kalau sudah selesai, mati lagi. Tidak ada keberlanjutan. Kita ingin tahu roadmap ke depannya seperti apa agar outputnya tidak lemah,” tegas Gusti, saat rapat pembahasan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Tahun Anggaran 2025, Rabu (22/4/2026).
Ia menilai pengelolaan kebudayaan perlu bergeser dari pendekatan berbasis kegiatan menuju penguatan ekosistem, termasuk pembinaan komunitas seni, ruang budaya, dan infrastruktur pendukung.
Dalam pembahasan itu, Gusti juga menyoroti perlunya pendampingan bagi sanggar seni, terutama di wilayah Jakarta Timur, yang dinilai banyak terkendala persoalan administrasi dan legalitas.
Menurut dia, Dinas Kebudayaan perlu melakukan pendekatan jemput bola agar lebih banyak sanggar dapat terakomodasi dalam pembinaan resmi pemerintah.
“Banyak sanggar di Jakarta Timur yang terbentur karena belum punya badan hukum. Kita minta pendampingan agar mereka diakomodir dan didata, supaya lebih banyak sanggar yang bisa dibantu secara resmi,” katanya.
Selain itu, Legislator NasDem ini juga mendorong penguatan fungsi Pusat Pelatihan Seni Budaya (PPSB) dan museum agar tidak sekadar menjadi fasilitas, tetapi menjadi ruang edukasi, interaksi, dan penguatan identitas budaya warga.
Gusti menilai PPSB harus menjadi fondasi ekosistem budaya di tingkat paling bawah sebelum penguatan dilakukan di level yang lebih luas. Menurut dia, penguatan ekosistem kebudayaan menjadi kunci agar program pemerintah tidak berhenti pada output administratif, tetapi benar-benar memberi dampak sosial di masyarakat.
“PPSB itu rumah kebudayaan warga di tingkat paling bawah. Sebelum kita mengajak masyarakat ke museum, ajak mereka ke PPSB terdekat dulu. Ini yang harus diperkuat ekosistemnya,” tutupnya. (II/FM)