Oleh: Lukman Hakim
Pengurus DPW Partai NasDem DKI Jakarta
“Partai NasDem menolak demokrasi yang tidak berorientasi kepada kepentingan publik.” Kalimat ini bukan slogan. Ia adalah alat ukur. Setiap keputusan partai, setiap kerja kader, setiap kebijakan wakil rakyat dari NasDem, harus bisa dinilai berdasarkan satu pertanyaan: apakah ini berpihak kepada kepentingan publik, atau tidak.
Tulisan ini berangkat dari kesadaran sederhana: janji yang diucapkan kepada publik harus lebih dulu ditagih kepada diri sendiri. Tanpa itu, semua pernyataan hanya akan menjadi dokumen yang kehilangan makna dalam praktik sehari-hari.
Kondisi yang Harus Diakui
Politik hari ini cenderung bergerak semakin transaksional. Kekuasaan diperlakukan sebagai komoditas. Suara rakyat dianggap sebagai angka yang bisa dihitung dan dibeli. Partai politik lebih sering berfungsi sebagai mesin memenangkan pemilu, bukan sebagai alat perjuangan kepentingan publik. Standar benar dan salah menjadi kabur, digantikan oleh satu ukuran tunggal: apakah strategi tersebut menghasilkan kemenangan.
Di titik inilah posisi NasDem diuji. Partai ini tidak didirikan untuk sekadar menjadi pemain baru dalam pola lama. Jika tujuan utamanya hanya memenangkan persaingan dalam sistem yang sama, tidak ada alasan untuk membangun sesuatu yang baru. NasDem berdiri karena keyakinan bahwa cara berpolitik harus diperbaiki.
Sistem Kerja: Dari RT ke Provinsi
Pernyataan ini akan kehilangan arti tanpa praktik. Karena itu dirumuskan sistem kerja yang menjadikan struktur partai sebagai jalur pelayanan publik. Gagasan dasarnya sederhana: persoalan warga muncul di tingkat paling dekat dengan kehidupan sehari-hari, maka partai harus hadir di sana.
Dari tingkat RT dan RW, persoalan didengar dan dicatat. Di tingkat kelurahan, persoalan diproses sejauh kewenangan memungkinkan. Jika tidak dapat diselesaikan, persoalan bergerak ke kecamatan, kemudian ke kota, dan bila perlu ke provinsi. Setiap level memiliki fungsi yang jelas dan bekerja dalam koordinasi dengan institusi pemerintah pada tingkat yang sama.
Dalam sistem ini, anggota DPRD tidak menjadi titik awal aspirasi, melainkan simpul akhir yang menggunakan kewenangannya untuk menyelesaikan persoalan yang membutuhkan kebijakan, anggaran, dan pengawasan.
Contoh sederhana: seorang warga RW 05 Petukangan Selatan mengalami masalah air PDAM yang mati berhari-hari. Ia tidak perlu langsung mendatangi anggota DPRD. Ia menyampaikan ke pengurus NasDem di tingkat RT/RW. Bila di kelurahan bisa selesai melalui koordinasi dengan lurah, selesai di sana. Bila membutuhkan tindakan PAM Jaya, naik ke tingkat kota. Bila membutuhkan kebijakan atau anggaran, baru sampai ke DPRD. Setiap tahap tercatat, setiap tindak lanjut terpantau.
Kepercayaan dan Kemenangan
Perbedaan mendasar pendekatan ini terletak pada cara melihat hubungan dengan masyarakat. Persoalan yang selesai tidak dianggap sebagai akhir, tetapi awal dari hubungan jangka panjang. Kepercayaan tidak dibangun melalui janji sesaat, melainkan melalui kehadiran yang konsisten.
Kemenangan tetap penting, bukan sebagai tujuan akhir, tetapi sebagai alat pembuktian. Tanpa kemenangan, pendekatan ini tidak memiliki ruang untuk diuji dalam skala yang lebih luas. Jika berhasil, ia menjadi bukti bahwa politik yang berorientasi kepada kepentingan publik tetap memiliki peluang untuk menang. Setiap kursi yang diperoleh melalui kerja nyata menjadi argumen bahwa demokrasi tidak harus dijalankan dengan cara yang merusak kepercayaan publik.
Menjaga Konsistensi Arah
Konsistensi arah adalah tantangan jangka panjang setiap organisasi politik. Perubahan arah jarang terjadi karena satu keputusan besar; lebih sering karena serangkaian keputusan kecil yang tidak sempat dievaluasi secara menyeluruh. Karena itu penting untuk memastikan bahwa pertimbangan kualitas tetap diutamakan dalam setiap pilihan, kebutuhan warga tetap menjadi acuan program, dan struktur organisasi tetap dijalankan sebagai instrumen pelayanan.
Di titik inilah manifesto memiliki peran nyata. Ia tidak berhenti sebagai dokumen, melainkan berfungsi sebagai alat ukur dalam setiap keputusan. Setiap program, setiap kebijakan, dan setiap langkah organisasi dapat diuji kesesuaiannya dengan prinsip dasar yang telah ditetapkan. Evaluasi yang berkelanjutan menjadi cara untuk memastikan arah tetap terjaga.
Jakarta sebagai Ruang Uji
Jakarta menjadi ruang uji dari seluruh gagasan ini. Apa yang berhasil di sini akan menjadi rujukan, dan apa yang gagal akan menjadi pelajaran. Di beberapa kecamatan, pola kerja ini sudah mulai dijalankan dalam skala terbatas. Setiap laporan warga tercatat, setiap tindak lanjut terdokumentasi, setiap penyelesaian bisa diverifikasi.
Restorasi bukan pekerjaan yang selesai dalam satu periode. Ia adalah pilihan yang harus diambil setiap hari — oleh setiap kader, di setiap tingkat, dalam setiap keputusan.
Di DPW NasDem Jakarta, pilihan itu sudah diambil. Bukan dengan pernyataan, tetapi dengan cara kerja. Publik yang akan menilai apakah pilihan itu konsisten dijalankan. Waktu penilaiannya adalah Pileg 2029.