JAKARTA (3 Agustus) – Keterlambatan rehabilitasi SDN Kebayoran Lama Selatan 09, Jakarta Selatan, membuat siswa kehilangan waktu belajar selama dua tahun terakhir. Para siswa harus mengikuti pembelajaran pada siang hari dengan waktu belajar yang terpangkas sekitar dua jam setiap hari.
Kondisi tersebut mendapat sorotan tajam dari Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Wibi Andrino, yang meminta percepatan pembangunan sekolah dan menjadikannya prioritas dalam pembahasan Kebijakan Umum Anggaran dan Plafon Prioritas Anggaran Sementara (KUA-PPAS) APBD 2027.
Menurut Wibi, keterlambatan pembangunan sekolah tidak boleh hanya dilihat sebagai persoalan proyek fisik, tetapi juga harus mempertimbangkan dampaknya terhadap hak belajar siswa. Selama gedung sekolah belum dapat digunakan secara optimal, para siswa harus menyesuaikan kegiatan belajar dengan kondisi yang tersedia.
“Mengenai sekolah yang sudah dibongkar dengan status direhab tapi enggak selesai-selesai. Korbannya adalah siswa didik,” ujar Wibi di Gedung DPRD DKI Jakarta, Senin (3/8/2026).
Ia mengatakan, pembelajaran pada siang hari juga memberikan beban tambahan bagi siswa maupun orang tua. Kondisi tersebut dinilai tidak ideal, terutama bagi keluarga yang orang tuanya harus bekerja pada pagi hingga siang hari.
“Mereka masuk sekolah siang panas-panasan. Orangtuanya kerja pagi, siang harus jemput anak berangkat sekolah. Ini adalah kebijakan yang lolos dari perhatian kita semua,” tegasnya.
Wibi meminta Dinas Pendidikan DKI Jakarta melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses rehabilitasi sekolah, termasuk memastikan pembangunan dapat diselesaikan sesuai target sehingga kegiatan belajar mengajar tidak kembali terganggu.
Menurutnya, setiap keterlambatan pembangunan harus dihitung berdasarkan dampaknya terhadap siswa. Ia menilai berkurangnya waktu belajar setiap hari merupakan kerugian yang tidak sebanding dengan alasan keterlambatan pekerjaan pembangunan.
Wibi berharap percepatan rehabilitasi SDN Kebayoran Lama Selatan 09 menjadi perhatian dalam penyusunan anggaran pendidikan DKI Jakarta, sehingga siswa dapat kembali memperoleh proses belajar yang optimal dan lingkungan pendidikan yang layak.
“Bagi saya, satu jam belajar anak berkurang per hari itu tidak worth it dibandingkan pekerjaan pembangunan yang terhambat,” pungkas Wibi. (*/FM)