JAKARTA (28 Juli) – Meningkatnya penggunaan gadget di kalangan anak-anak menjadi tantangan baru dalam membangun budaya literasi di Jakarta. Di tengah keterbatasan pengawasan orang tua, terutama di kawasan permukiman padat dan wilayah pinggiran, dibutuhkan ruang-ruang belajar yang mampu menarik kembali minat anak untuk membaca dan beraktivitas secara positif.
Di tengah tantangan tersebut, Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta Fraksi Partai NasDem, Imamuddin, mengapresiasi berbagai inovasi yang telah dilakukan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Arpusip) DKI Jakarta dalam mendekatkan budaya literasi kepada masyarakat. Salah satunya melalui program Perpustakaan Niaga Serang yang dinilai mampu menghadirkan perpustakaan sebagai ruang belajar yang lebih dekat dengan warga.
Meski demikian, Imamuddin menilai upaya tersebut perlu terus dikembangkan agar mampu menjawab tantangan perubahan perilaku anak-anak yang kini semakin akrab dengan penggunaan gadget.
“Penggunaan gadget pada anak-anak saat ini sudah sangat mengkhawatirkan, terutama di daerah pemukiman padat dan pinggiran, ketika banyak orang tua harus bekerja sehingga pengawasan terhadap anak menjadi terbatas,” ujar Imamuddin dalam rapat kerja Komisi E DPRD DKI Jakarta bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Senin (27/7/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut harus direspons dengan menghadirkan lebih banyak ruang literasi yang mudah diakses sekaligus mampu menjadi alternatif kegiatan positif bagi anak-anak di luar aktivitas menggunakan gawai.
Imamuddin mengungkapkan, penguatan budaya literasi tidak cukup hanya dengan menambah koleksi buku, tetapi juga melalui transformasi perpustakaan menjadi ruang publik yang ramah anak dan mampu mengikuti perkembangan zaman.
Karena itu, Legislator NasDem ini mendorong Dinas Arpusip terus menghadirkan program-program literasi yang kreatif dan inovatif sehingga perpustakaan tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga ruang belajar, berkarya, dan berinteraksi bagi anak-anak.
“Dinas Arpusip harus terus bereksplorasi dan berinovasi menciptakan program literasi yang menarik agar anak-anak kembali gemar membaca. Dengan begitu, perpustakaan dapat menjadi alternatif ruang belajar sekaligus ruang bermain yang positif di tengah derasnya penggunaan gadget,” tegasnya. (FM)